YUANYANG HANI TERRACE FIELD

YUANYANG HANI TERRACE FIELD


Mengutip Thornton Wilder, Only it seems to me that once in your life before you die you ought to see a country where they don’t talk in English and don’t even want to 

Perjalanan ke Yuanyang adalah sebuah perjalanan dadakan yang diluar dari rencana dan jadwal yang telah di buat, delay selama 24 jam di awal perjalanan menjadikan kami mengesampingkan semua rencana yang telah disusun dan mulai berjalan sejauh mana kaki mampu membawa kami berjalan, melihat sebanyak mata mampu melihat.

Sebagai penutup rangkaian perjalanan di Tiongkok Selatan, kami menjejakkan kaki di Yuanyang. Yuanyang berada di Tenggara Provinsi Yunnan. Setelah menempuh perjalanan kereta api selama 9 jam dari Lijiang ke Kunming, kami harus segera bergegas untuk ke South Bus Station, Kunming untuk melanjutkan perjalanan ke Yuanyang.

Ternyata tiket bus untuk malam hari ini sudah habis dan bus terakhir baru saja berangkat, berbagai cara kami bujuk rayu penjual tiket dengan bahasa yang terbatas ya tetap saja kesimpulannya malam ini ngak bisa berangkat dan kalo mau harus tunggu besok pagi, bus pertama berangkat ke Yuanyang adalah pukul 10 siang.

Setelah berembuk singkat kami memutuskan membeli tiket bus untuk perjalanan tanggal 1 Januari 2014 ke Yuanyang dan malam ini akan melewatkan pergantian tahun di Kunming tanpa ada acara countdown, petasan ataupun acara rame-rame lainnya, masing-masing kita terlarut dalam sepi dibalik selimut.

Perjalanan kembali berlanjut keesok harinya, setelah menghabiskan malam tahun baru di kamar sekaligus membahas rencana perjalanan selanjutnya, pagi-pagi buta kami telah checkout dari hotel, tanpa mandi dan rutinitas lainnya karena kondisi kamar mandinya sangat-sangat tidak memungkinkan untuk itu semua (bagi yang pernah traveling ke Tiongkok pasti ngerti)

Berbekal tiket yang telah di beli semalam, kami bergegas balik ke stasiun bus dengan diantar pemilik hotel (kualitas hotel sih memang parah, tapi pelayanan ok juga, harga murah, lokasi horor, plus antar jemput hehe). Sambil menanti jadwal keberangkatan bus, kami sepakat untuk mencari makan pagi dilanjutkan dengan berkeliling seputaran terminal, di sekitar terminal banyak banget hal-hal yang bisa di lihat mulai dari rutinitas masyarakat, calo bus, supir taksi hingga ragam traveler bersatu padu di tempat ini.

Bus berangkat tepat waktu, pukul 10.00 kami telah melaju mulus di jalanan menuju ke Yuanyang yaitu sebelah barat daya Kunming, perjalanan ditempuh dengan waktu 7 jam. Pemandangan di sepanjang perjalanan terasa unik, awalnya menaiki bukit kemudian menurun melewati kampung demi kampung, ladang, terowongan, kota demi kota tanpa terasa ketika mulai memasuki Yuanyang kita telah disambut dengan persawahan yang berundak memenuhi bukit dengan teknik yang di wariskan turun temurun oleh suku Hani yang mendiami daerah Yuanyang.

Karena waktu yang sangat singkat sekali kami berusaha kontak dengan Sophia (salah satu guide berbahasa inggris yang di rekomendasi dari forum) ternyata jadwal Sophia full untuk tanggal 1 Januari 2014, tanpa memiliki jadwal dan tujuan yang pasti selama di Yuanyang kami mencoba flow saja melangkah sejauh mana kaki mampu membawa kami. Di bus kami bertemu dengan seorang solo traveler asal Brazil, tambah lagi teman perjalanan untuk menjelajah Yuanyang, ternyata traveler asal Brazil tersebut selain sebagai dokter gigi juga merupakan Profesor perguruan tinggi disana yang mengambil cuti untuk keliling Tiongkok.

Pukul 17.00 kami sampai di stasiun bus Yuanyang, stasiun busnya lumayan kecil dan jadwal bus terbatas waktunya, begitu turun dari bus langsung disamperin oleh seorang mbak-mbak yang menawarkan kamar, awalnya cuek aja pura-pura ngak tertarik, tapi begitu melihat brosur dan melihat nama Ying You Lian Guesthouse langsung saya iyakan ajakan mbak-mbak itu untuk tinggal di sana (Ying You Lian Guesthouse ini juga yang selama ini saya baca di forum-forum dan sangat di rekomendasikan)

Ternyata pemiliknya si mbak-mbak itu bernama Belinda dan dia merupakan sedikit dari warga Yuanyang yang fasih berbahasa Inggris, jadilah kami rekuest ke dia untuk disiapkan kendaraan ke Bada Scenic melihat matahari terbit dan terbenam. Tanpa menunggu waktu lama, datanglah sebuah van sewaan seharga 300 Yuan yang membawa kami ber 5 keliling tempat-tempat eksotis di sana.

Ketika kami mengusulkan ke dock melihat matahari terbenam yang terdekat yaitu Bada, si Belinda kemudian mengatakan kalian harus membeli tiket entrance fee seharga 100 Yuan (shock semua kami yang mendengar, masuk ke tempat tersebut harus membayar 100 Yuan, sebuah harga yang kami rasa lumayan mahal) berbagai cara kami yakinkan Belinda untuk tidak usah membeli tiket, akhirnya dia luluh juga mengajari kami cara masuk kesana tanpa membayar, karena di lihatnya kami ini muka Tionghua dan tipikal orang kuantung, dia katakan ke supir van untuk membantu kami.

Ternyata usaha dan upaya kami gagal sama sekali karena penjagaan disana lumayan ketat, dengan sangat berat hati kami merelakan uang 100 Yuan kami berpindah dari dompet ke petugas di Entrance. Tanpa menunggu lama kami mendesak supir van untuk kebut ke lokasi karena mendekati waktu sunset, ngk mau rugi ketinggalan moment yang kami rasa lumayan mahal.

1797399_10152237122799074_409373577_n

Untungnya uncle supir van tersebut cukup sabar menunggu kami sibuk dengan mainannya masing-masing, hingga matahari benar-benar hilang dari pandangan dan keadaan sekeliling gelap gulita barulah kami beranjak meninggalkan tempat tersebut.

Sambil mengantarkan kami kembali ke penginapan, si Charles rekuest mencari ATM terdekat, dan kami diantar ama supir ke Yuanyang Yunti Hotel, katanya ATM terletak di belakang hotel, jadilah kami berdua jalan kaki menyusuri tangga demi tangga (lansekap dari Yuanyang adalah berbukit-bukit, kota didirikan diatas bukit jadinya jalanan naik turun mengikuti kontur bukit), sialnya ATM Tiongkok tidak bisa menarik uang tunai dari ATM luar negeri, jadilah si Charles merelakan uang USD nya di tukar dengan kurs yang jauh lebih rendah di Guesthouse.

Usai dari ATM kami melanjutkan dengan makan malam, kami mengajak serta si Charles dan dia mengatakan tidak bisa bergabung dan harus menyelesaikan masalah tukar uangnya terlebih dahulu, di depan hotel Yunti itu kami berpisah, makan malam kali ini di sebuah restoran yang dipenuhi dengan turis dan juga warga lokal, restoran ini di rekomendasikan oleh Belinda ketika itu bertemu di depan hotel, baru di Yuanyang lah kami bertemu pemilik restoran yang ramah, kami di layani dengan senyum dan dibawa ke dapur untuk memilih menu.

Sehabis makan kami balik ke penginapan, nah perjalanan balik inilah yang menjadi cerita lucu, karena sudah kebelet sejak pagi belum melakukan ritual, sehabis makan perutnya makin mules dan bergegaslah kami mencari jalan potong kembali ke penginapan, ternyata jalan yang kami jalan itu salah alhasil kami blusukan ke gang-gang sempit bak labirin tanpa tau jalan keluarnya, udah itu jalannya naik turun lagi praktis membuat kami olahraga malam, waktu itu jam menunjukkan pukul 20.00 tapi sekeliling kami sudah sangat sepi, masyarakat lebih memilih menghabiskan waktu di rumah setelah seharian bekerja di sawah dan juga dinginnya malam lebih menusuk ke tulang.

Beruntung dalam ketersesatan kami itu berjumpa dengan warga yang kebetulan melintas, dia menunjukkan jalan keluar ke jalan besar, menaiki tangga terjal keatas dan hola kami kembali ke jalan yang benar, dan lorong/ labirin tersebut tidak jauh dari penginapan. Tanpa menunggu lama langsung berlarian ke kamar mandi baik yang dikamar maupun di luar kamar untuk mengentaskan hasrat yang tertahan sejak pagi.

Suasana damai di Yuanyang sangat terasa, langit yang cerah menampakkan bintang dan bulan, polusi cahaya yang tidak terlihat sama sekali, cuaca yang dingin ditambah dengan orang-orang yang ramah menjadikan tempat ini menjadi yang paling berkesan dalam perjalanan kami selama 10 hari tersebut.

Panggilan dari tempat tidur dan bantal seolah-olah menarik kami untuk dapat lebih cepat istirahat mengingat besok pagi jam 4 sudah harus bangun dan bergegas ke Duoyishu Scenic Area.

Jam 5 pagi supir van ternyata sudah menunggu kami di depan pintu penginapan, selain kami ada juga rombongan lain yang berangkat ke berbagai tempat di area Yuanyang untuk menikmati terbitnya matahari dengan latar belakang rice terrace yang terkenal ke seantaro jagad.

Perjalanan ke tempat yang kami tuju tersebut memakan waktu 40 menit lebih dengan melewati desa-desa suku Hani, jalanan berkelok dan menurun, suasana gelap gulita menjadikan perjalanan kami ini seakan memasuki era tahun 80 an dan juga dilengkapi dengan arsitektur suku Hani yang masih sangat orisinil menjadikan perjalanan ini sangat berarti turut merasakan gimana kehidupan masyarakat lokal.

Pukul 05.50 kami sampai di lokasi, ternyata sudah sangat banyak masyarakat lokal yang berkerumun di depan gerbang yang dijaga 2 petugas, mereka menawarkan telur rebus dengan harga 1 Yuan.

1499669_10152240108899074_169307233_n

Detik-detik menunggu terbitnya matahari merupakan satu perjuangan tersendiri di sana, dinginnya udara pagi hari, ditambah dengan penuhnya watching dock oleh para fotografer menjadikan kita harus sedikit rebutan tempat, jika di kampus tempat duduk menentukan prestasi, maka di watching dock tempat menentukan angle dan moment hehe..

Penantian untuk jam 7 pagi terasa sangat lambat, ratusan fotografer telah bersiap dengan tripod, cable release dan berbagai peralatan terbaik untuk mengabadikan moment terbitnya matahari di ufuk timur, kami yang dari awal terlalu malas untuk membawa serta tripod dalam perjalanan ini sedikit menyimpan rasa menyesal, selain tentunya harus berupaya lebih keras dibandingkan dengan mereka yang membawa tripod. Beruntungnya di watching dock terdapat pegangan kayu yang bisa dijadikan tripod dadakan, yang tidak enaknya adalah ketika enak-enaknya kita motret ada aja dari pengunjung itu berjalan di dock kayu tersebut dan mengakibatkan shake.

12128_10152294359584074_1854179634_n

Puas mengabadikan berbagai sudut Duoyishu Scenic Area, kami melanjutkan perjalanan ke tempat lain yang menurut supir van adalah tempat favorit melihat keindahan rice terrace tersebut, sayangnya waktu yang kami miliki sangat terbatas, kami harus berpacu dengan waktu mengejar bus yang membawa kami ke Hekou yang akan berangkat pukul 10.00

Kami mencoba negosiasi dengan diri sendiri, satu tempat hanya 5 menit ya, dengan harapan dapat melihat sebanyak-banyaknya sisi dari Yuanyang Rice Terace tersebut. Supir van juga rupanya tidak cukup sabar dan selalu memburu-buru kami supaya cepat (tanggung jawab si supir van supaya kami tidak terlambat) akhirnya pukul 09.40 kami sampai di penginapan, langsung cabut ke atas kamar mengambil tas dan pamit dengan Belinda dan Charles. Kami diantar oleh supir van ke stasiun untuk melanjutkan perjalanan kami ke Hekou kemudian menyeberang ke Lao Cai Vietnam.

Moment-moment di Yuanyang merupakan moment terbaik yang kami rasakan dalam rangkaian perjalanan kami, perjuangan mencapai tempat, suasana, orang-orang yang ramah seolah-olah membuat kami merasa seperti berasa di rumah sendiri. Dalam hati kami bertekad suatu saat akan kembali ke Yuanyang yang mempersona ini.

1654432_10152294359499074_1688984024_n

 

+ There are no comments

Add yours