Kaldera Toba for UNESCO

Kaldera Toba for UNESCO


Danau Toba adalah danau kaldera terbesar di dunia yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, berjarak 176 km ke arah Barat Kota Medan. Danau Toba merupakan danau terluas di Indonesia (90 x 30 km2) dan juga merupakan sebuah kaldera volkano-tektonik (kawah gunung raksasa) terbesar di dunia.

Ada sebuah mimpi untuk menjadikan Kaldera Toba jadi sebuah Geopark. Harapannya Geopark Kaldera Toba segera diwujudkan menjadi bagian dari Global Geopark Network (GGN) di bawah UNESCO, salah satu badan dunia PBB. Apabila harapan itu terwujud, diharapkan kondisi Danau Toba yang dalam keadaan rusak dapat lebih terlindungi lagi, pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat setempat dapat sama-sama memberantas penebangan hutan secara liar, keramba ikan, membuang sampah di danau dan banyak lagi aktivitas yang secara langsung atau tidak langsung merusak ekosistem di Danau Toba

Danau Toba yang terbentuk sekarang ini ternyata merupakan kawah dari gunung Toba Purba yang meletus pada 74.000 tahun yang lalu. Gunung Toba Purba pernah meletus sebanyak 3 kali yaitu :

  • Letusan pertama terjadi sekitar 800 ribu tahun lalu. Letusan ini menghasilkan kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Prapat dan Porsea.
  • Letusan kedua yang memiliki kekuatan lebih kecil, terjadi 500 ribu tahun lalu. Letusan ini membentuk kaldera di utara Danau Toba. Tepatnya di daerah antara Silalahi dengan Haranggaol. Dari dua letusan ini, letusan ketiga lah yang paling dashyat.
  • Letusan ketiga 74.000 tahun lalu menghasilkan kaldera, dan menjadi Danau Toba sekarang dengan Pulau Samosir di tengahnya.

Letusan Gunung Toba merupakan letusan gunung berapi yang paling dahsyat yang pernah diketahui di planet Bumi ini.  73.000 tahun yang lalu letusan dari supervolcano di Indonesia ini hampir memusnahkan seluruh umat manusia. Kedahsyatan letusan gunung Toba memang sangat terkenal dan merupakan 3 besar letusan volcano terdahsyat di planet Bumi.

Kini setelah 74.000 tahun berlalu, Danau Toba tetap menyimpan keindahan tiada tara, kita akan diperhadapkan kepada berbagai keindahan yang berbeda tergantung dari sudut/ sisi Danau Toba yang kita kunjungi. Danau Toba sungguh merupakan sebuah anugerah yang tiada terkira yang diberikan Tuhan kepada kita, tentunya merupakan tanggung jawab kita untuk menjaga kelestarian dari Danau Toba tersebut. Penebangan liar, keramba dan kesadaran membuang sampah dengan sembarangan serta kepedulian dari masyarakat sekitar Danau Toba yang rendah menyebabkan kondisi Danau Toba cukup mengkhawatirkan.

Beberapa waktu lalu saya sempat “blusukan” mengelilingi Danau Toba yang saya beri judul 360 Toba Exploration. Sepanjang perjalanan saya di suguhkan pemandangan yang sangat indah, di sisi lain saya juga di hadapkan dengan Brutal Tourism kenapa saya katakan demikian ? hal ini karena sepanjang perjalanan saya sejauh 1150 km tersebut dengan melalui jalanan yang hancur aspalnya dan juga infrastruktur yang tidak merepresentasikan tempat wisata.

IMG_1195_resize

Indahnya pemandangan di tambah jalanan yang sangat sempit serta jarangnya pengunjung menjadikan desa Silalahi di pinggiran Danau Toba ini layak untuk di kunjungi

IMG_1182_resize

Jalanan kecil menjadi makanan sehari-hari dalam road trip di Toba

Bunga Liar yang merupakan tanaman khas yang hanya di temukan di seputaran Danau Toba

Bunga Liar yang merupakan tanaman khas yang hanya di temukan di seputaran Danau Toba

Dream Indonesia
Danau Toba tetap menjadi sebuah destinasi yang sangat worth it untuk di kunjungi, keunikan budaya, keunikan masyarakat di sekeliling Danau Toba yang terdiri dari 7 Kabupaten tersebut menjadi Danau Toba menyimpan potensi wisata yang sangat besar sekali.

Sayangnya, kondisi infrastuktur yang tidak mendukung menjadikan salah satu destinasi unggulan di Sumatera Utara ini lumayan sulit di capai, bayangkan untuk menikmati keindahan Danau Toba dari sisi Pulau Samosir kita harus menempuh perjalanan darat dari Medan selama 4 jam menuju kota Parapat, kemudian kita akan menyeberang ke Pulau Samosir menggunakan ferry yang ditempuh selama 1 jam. Kondisi tersebut akan sangat buruk jika mengunjungi Danau Toba pada liburan panjang, Ferry yang melayani penyeberangan dari Parapat ke Tomok (pulau Samosir) hanya terdiri dari 2 kapal saja.

Jalanan menurun dari Tele menuju Samosir

Jalanan menurun dari Tele menuju Samosir

Menuju Pulau Samosir juga dapat ditempuh dari kota Berastagi, dari Medan ke Berastagi dapat ditempuh dengan waktu 2 jam kemudian dilanjutkan ke arah Sidikalang yang ditempuh dengan waktu 4 jam, dari sana kita harus menuju ke Dataran Tinggi Tele yang ditempuh dengan waktu 1,5 jam dari Sidikalang. Selanjutnya dari Tele kita akan menuruni dan menyusuri pegunungan dan masuk ke Samosir melalui sebuah Kanal yang telah di buat jembatan yang dinamakan Tano Panggul selama 1 jam dan sampailah kita di kota Pangururan. Total perjalanan menghabiskan waktu sekitar 8,5 jam.

Pemandangan Danau Toba dari dataran tinggi Tele

Pemandangan Danau Toba dari dataran tinggi Tele

Sesampainya di Pulau Samosir, kita akan benar-benar di manjakan dengan suasana tenangnya tepian danau toba, kita seakan-akan melupakan segala beban pekerjaan yang kita tinggalkan nun jauh disana, di tepian Danau Toba kita dapat melakukan banyak hal tergantung bagaimana kita ingin menikmatinya.

_MG_3995

Anak Gembala yang memandikan kerbau di tepian danau toba

Desa di pinggir danau toba dengan hamparan sawah di kaki gunung

Desa di pinggir danau toba dengan hamparan sawah di kaki gunung

anak-anak berangkat ke sekolah di desa Sihotang, tepian danau toba

anak-anak berangkat ke sekolah di desa Sihotang, tepian danau toba

_MG_3755

Danau Toba, Matahari Terbit dan Gunung Pusuk Buhit di sebelah kiri

Matahari terbit, pemandangan dari menara pandang tele

Matahari terbit, pemandangan dari menara pandang tele

tikungan tajam di Tele

tikungan tajam di Tele

Keceriaan anak-anak bermain di tepian danau toba

Keceriaan anak-anak bermain di tepian danau toba

Pohon-pohon pinus di sepanjang punggung bukit

Pohon-pohon pinus di sepanjang punggung bukit

Menara Pandang Tele, Tempat menatap keindahan Danau Toba dari Atas

Menara Pandang Tele, Tempat menatap keindahan Danau Toba dari Atas

Peaceful Morning

Peaceful Morning

Dengan segala keindahan yang dapat Danau Toba tawarkan, sudah sepantasnya dan sepatutnya kita memiliki sebuah mimpi bagi Danau Toba, mimpi bahwa Danau Toba yang lebih manusiawi, infrastruktur yang tertata rapi, sehingga tidak lagi tercipta stigma Brutal Tourism dan mengubah Brutal Tourism menjadi Dream Indonesia.

Selain itu Danau Toba menjadi sebuah Destinasi yang utama bagi wisatwan yang berkunjung ke Sumatera Utara, semua impian-impian ini dapat terwujud dengan kerjasama yang baik antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan juga masyarakat di seputaran danau toba yang merupakan pemilik danau toba. Semoga impian Kaldera Toba dapat segera terwujud, dengan terwujudnya Kaldera Toba menjadi Geopark Kaldera Toba, Danau Toba bukan lagi menjadi “milik” Indonesia saja, tapi Danau Toba menjadi “milik” dunia, Dunia akan bersama-sama mewujudkan kembali Danau Toba yang asri dan Danau Toba yang layak huni bagi orang-orang yang mendiaminya.

Tulisan ini merupakan Post Bareng bersama teman-teman dari Travel Blogger Indonesia, teman-teman juga dapat melihat karya teman-teman lain di :

  1. Albert Ghana, Jelajah Laut Negeri Menjaga Titik Luar Indonesia
  2. Arie Okta Friyanto, Dream Destination, Banda Aceh
  3. Astin Soekanto, Inginku Boven Digul Belajar dari Bung
  4. Danan Wahyu, Mimpi Anambas
  5. Edy Masrur, Berbagi Ilmu dan Menimba Kearifan di Wae Rebo
  6. Eka Situmorang Sir, Pantai Impian
  7. Firsta, A Story from Banda Neira
  8. Indah Purnama, Indonesia Bikin Rindu
  9. Indri Juwono, Anambas Mimpi Indonesiaku
  10. Leonard Anthony, Di Timur Menyongsong
  11. Liza Fathia, Berkisah tentang Sabang di Hari Kemerdekaan
  12. Matius Nugroho, 5 Destinasi Impian Indonesia
  13. Parahita Satiti, Dream Indonesia, Kembali ke Pulau Lombok
  14. Puteri Normalita, Anambas Surga Tropis di Ujung Negeri
  15. Rembulan Indira, Mimpi Indonesia Desa Adat Wae Rebo
  16. Rico Sinaga, Ingin ke Misool
  17. Shabrina Koeswologito, Give Back for Indonesia
  18. Tracy Chong, Papua: A Dream Destination Where I Meet This Inspiring Lady
Categories

1 comment

Add yours
  1. 1
    Rianto

    Dear Pak Lim,
    Salam kenal…
    Terimakasih untuk tulisan2 Bapak dan tim-nya tentang daerah2 di Indonesia, khususnya negeri “nenek moyang” kami ini. Foto-fotonya keren! Saya suka sekali… Bolehkah saya save untuk dipajang di halaman facebook saya? Tentu saja saya takkan lupa menyertakan sumber foto-fotonya…

    Sekali lagi, terimakasih kami untuk pak Lim dan tim-nya. Tuhan memberkati.

    Salam.

+ Leave a Comment