Belajar (kembali) Mencintai Indonesia

Belajar (kembali) Mencintai Indonesia


[soundcloud url=”https://api.soundcloud.com/tracks/105734524″ params=”color=ff5500&auto_play=true&hide_related=false&show_comments=true&show_user=true&show_reposts=false” width=”100%” height=”1″ iframe=”true” /]

Sudah lama sekali tidak pernah menulis tentang Nasionalisme ataupun yang berkaitan dengan Cinta Indonesia, belakangan ini saya merasa rasa Nasionalisme dan kecintaan kepada bangsa ini sudah terkikis habis seiring dengan makin beredarnya secara viral di dunia maya kebencian, mengkafir-kafirkan orang yang tidak seiman ataupun menjelekkan apa saja yang di lakukan oleh Pemerintah kita.

Saya sudah tidak tertarik lagi untuk berdiskusi tentang bangsa ini dengan teman-teman lainnya, dulu saya merupakan orang yang hobinya berdiskusi membahas segala macam mulai dari Politik, Sejarah, hingga peran serta anak muda dalam membangun Indonesia. Tetapi ya kembali lagi kepada para Haters yang terlalu menyebarkan pesan negatif atas bangsa Indonesia ini sehingga saya juga ikutan Apatis dan memilih untuk menyerah mencintai Indonesia.

Bayangkan saja, ketika kebebasan menjalankan ibadah di lindungi UU tetapi ada segelentir orang mengatasnamakan agama tertentu menggerebek tempat ibadah agama lain yang tidak seajaran dengan mereka dan menyegel tempat ibadahnya, belum lagi ketika ada pemimpin yang berbeda agama dengan mereka dan berusaha terbaik untuk daerah yang di pimpinnya tetapi apa yang diterima nya ? pemimpin tersebut dikatakan kafir lah, tidak mau dipimpin oleh suku kafir lah dan lain sebagainya, jujur saja setiap hari media massa menampilkan berita negatif terus dan pada satu titik saya kehilangan rasa cinta kepada Indonesia ini dan berharap untuk segera pergi saja dari Indonesia ini. Inilah realitas yang saat ini kita lihat dan rasakan di Indonesia belakangan ini.

Setiap orang yang setiap hari di jejali hal-hal yang negatif, maka hal negatif yang akan terus di ingat dan merusak jiwa orang tersebut. Desember 2015 saya mengambil waktu break sesaat meninggalkan hiruk pikuk dunia perpolitikan dan dunia maya Indonesia untuk memulihkan jiwa yang telah terkontaminasi berita negatif. Saya memilih kota Pai diujung utara Thailand untuk “menyepi” dan memulihkan jiwa dan pikiran untuk menyambut tahun 2016.

Justru di kota Pai yang kecil ini saya kembali menemukan hal yang selama ini hilang di Indonesia yaitu kerukunan hidup beragama serta toleransi yang selama ini menjadi ciri khas bangsa kita ini. Disini saya kembali menemukan passion untuk (kembali) mencintai Indonesia, Indonesia terlalu indah untuk dirusak oleh segelintir orang yang memang dari awal bertujuan untuk memecah belah kerukunan di antara masyarakat di Indonesia.

Pedagang Suku Hui yang beragama Muslim berjualan berdampingan dengan yang lain di Walking Street

Pedagang Suku Hui yang beragama Muslim berjualan berdampingan dengan yang lain di Walking Street

Jualan di depan Mesjid

Jualan di depan Mesjid

Kota Pai terdiri dari berbagai suku, mereka merupakan suku-suku minoritas yang hidup di pegunungan Mae Hong Son, bahkan ada pengungsi dari Myanmar yang kemudian berintegrasi dalam masyarakat Thailand serta pengungsi dari Yunnan yang lari ketika konflik revolusi budaya terjadi di Tiongkok. Selain ragam suku, disana juga mereka menganut agama yang berbeda, ada Islam, Kristen dan Buddha. Buddha yang mayoritas bisa menerima keberadaan suku Hui yang beragama Islam, bahkan mereka bisa hidup berdampingan dengan rukun.

Melayani Pembeli

Melayani Pembeli

Di Walking Street juga berdiri mesjid yang menjadi rumah bagi umat Islam di Pai untuk beribadah, dan tak jauh juga dari sana berdiri Kuil Buddha yang menjadi tempat umat Buddha beribadah, mereka dengan rasa toleransi telah mengatur suara speaker sehingga tidak saling menggangu, di Mesjid suara speaker doa yang dilantunkan para Bhikhu tidak terdengar sedangkan di seputaran kuil suara azan juga tidak terdengar walaupun jaraknya tidak sampai 500 meter. Mereka telah meleburkan diri menjadi satu yaitu bangsa Thailand.

Mesjid di Pai

Mesjid di Pai

Walaupun kerukunan umat beragama di Kota Pai tidak merepresentasikan keseluruhan kehidupan umat beragama di Thailand, setidaknya di Thailand Tengah dan Utara telah memperlihatkan Islam yang humanis, Islam yang inkulturasi, Islam yang melebur diri bersama budaya lokal. Berbeda dengan kehidupan Islam di Selatan Thailand, yang sering konflik itu semua tidak terlepas dari sejarah dan kebijakan masa lalu yang mempengaruhi konflik tersebut.

Yang Muslim Jualan kue-kue, berdampingan dengan non-muslim yang menjual makanan non-halal

Yang Muslim Jualan kue-kue, berdampingan dengan non-muslim yang menjual makanan non-halal

Dikota Pai ini, saya kembali merenung bahwa masih banyak orang baik di Indonesia, ketika orang baik diam dan tidak melakukan tindakan apapun, maka orang jahat atau orang yang ingin memecah belah bangsa ini akan mudah mencapai tujuan mereka. Saya kembali tersadar bahwa perbedaan itu indah, perbedaan itu menjadikan kita dapat menerima keberadaan orang lain. Di kota kecil Pai ini saja bisa hidup rukun kenapa kita bangsa yang besar yang katanya sangat ramah dan toleransi tidak bisa ? bukankah itu dulu telah kita lakukan bersama-sama. Indonesia pasti bisa berubah.

Booth Lain yang berjualan di Walking Street Pai, Halal vs non-Halal

Booth Lain yang berjualan di Walking Street Pai, Halal vs non-Halal

Kembali saya disadarkan kembali bahwa Indonesia terlalu sayang untuk di abaikan begitu saja, hanya karena mereka-mereka yang tidak bisa menerima perbedaan dan membuat penyataan provokasi untuk memecah belah kita akhirnya kita menyerah dan berhenti mencintai Indonesia ??

Dalam perhelatan ajang pencarian bakat di stasiun swasta saya melihat seorang kontestan yang gagal meraih tiket, dia menyanyikan lagu ciptaannya yang mengena dihati, Pujiono seorang kontestan yang gagal tapi berhasil menarik decak kagum dari jutaan orang Indonesia, dia mereprsentasi orang Indonesia yang ingin Indonesia lebih baik lagi.

Semoga kecintaan kepada Indonesia ini tidak akan luntur lagi sampai kapanpun, walaupun ada aral merintang tidak akan menyurutkan rasa cinta saya kepada bangsa ini, karena saya telah menemukan (kembali) cinta saya kepada Indonesia ini.

Categories

+ There are no comments

Add yours