14 Days – Motorbike trip around Provincia de Buenos Aires, Argentina part 1

14 Days – Motorbike trip around Provincia de Buenos Aires, Argentina part 1


daStart…
Perjalanan dimulai dari rasa suka kami dengan touring, jadi pas awal saya tahunya ibukota Argentina tuh Buenos Aires tapi aneh Buenos Aires tuh juga Provinsi yg ibukotanya La Plata, lha…bingung kan ? Hahahaaa…

Belen jelasinny pake peta, nah saya baru ngerti rupany ibukota Capital Federal Buenos Aires tuh kecil banget… Cuma setitik tapi Provinsi Buenos Aaires tuh besaaaarr banget, jadi Provinsi saja sama ukurannya dgn negara Spanyol.

col_09

Jd mulailah kami planning untuk buat perjalanan ini menjadi kenyataan,  mulai dari beli peta, perlengkapan touring murah ampe alat camping, terus menabung dan ambil cuti 2 minggu untuk jalan. Pas saya di Medan pernah baca di  Yahoo News ada berita tentang kota hantu kayak Chernobyl dan di Buenos Aires ada 1 kota juga yang seperti itu nama kotanya Epecuen.

Checkpoint 1 : Trenque Lauquen

Kami penasaran banget akan tempat itu, terus buat planning rute perjalanannya ke arah sana, Kalo di lihat melalui tempat yang kita kunjungi di peta tuh seperti 1 putaran dari provinsi Buenos Aires. Checkpoint pertama kami menempuh jarak  444,2 km, dari rumah di Capital Federal sampai Trenque Lauquen

map

Kalo kita lihat kehidupan di Capital tuh bagus banget, terlalu sibuk, hiruk pikuk dan penuh dengan aktivitas, jadi sewaktu keluar dari jalan tol langsung mulai terlihat perbedaannya, penuh dgn tanah kosong dan datar, disini namany La Pampa sepanjang mata memandang hanya terlihat ladang dan kebun orang yang luas. Kami stop di Pom Bensin 4 – 5 kali untuk istirahat, kami makan siang di Carlos Casares, kota persinggahan di tengah rute perjalanan.

Makan siangnya Asado (steak Argentina) terus kemudian lanjut dan kita berhenti lagi di  Pehuajo. Kota yg terkenal karena lagu buat anak-anak Argentina yang judulnya kura-kura “Manuelita”, jadi saya ambil foto dan video patung kura-kuranya kemudia melanjutkan perjalananan. Lagu Manuelita seperti dibawah ini.

Manuelita

Manuelita

Pada akhirnya kami tiba di tujuan pertama sekitar pukul 18.00 kami berangkat dari rumah sekitar pukul 08.30 berarti kami telah menghabiskan 9,5 jam di perjalanan. Perjalanan hari pertama ini kami akhiri dan beristirahat di hotel yang terletak tepat di depan taman kota.

Menghabiskan malam di Trenque Lauquen diiringi dengan hujan, keesok harinya ketika bangun tidur hujan masi dengan setia mengguyur. Kami rada deg-degan juga dengan situasi seperti itu, untungnya ketika siap sarapan hujan sudah berhenti. Kami segera mengepak barang untuk segera melanjutkan perjalanan. Sebelum berangkat kami menyempatkan untuk mengecek prakiraan cuaca, sialnya di perhentian kami yang selanjutnya dinyatakan hujan pula. Next checkpoint kita tuh langsung ke Carhue, kota terdekat ke Epecuen.

Perjalanan dari Trenque Lauquen ke Carhue menempuh jarak sekitar 184km, Sooo kami memulai perjalanan hari kedua dengan cuaca cerah dari Trenque Lauquen. Dalam perjalanan ke Carhue kami harus melewati 3 danau dan kota Guamini, salah satu kota yang harus di lewati pas menuju Carhué.

Ok.. Perjalanan dari Trenque Lauquen menuju Carhue diawali dengan kemudian cerah, terus setelah jalan tidak jauh karena berada diareal yang terbuka nampaklah di ujung cakrawala di depan kami langitnya hitam kelam menyimpan badai yang siap menerjang apa saja dihadapannya dan sialnya kami menuju kesana, menuju ke episentrum badainya

strom just passed

strom just passed

Makin lama udaranya semakin dingin, kami memutuskan untuk berhenti sejenak memakai jas hujan, sesaat setelah kami melanjutkan perjalanan hujan sudah mulai turun rintik-rintik dan tampak jelas kilatan petir di depan kami saling berbalasan. Kami terus dan terus untuk mencari tempat berteduh, untungnya didepan kami temukan sebuah pom bensin tua, tanpa pikir panjang kami langsung masuk. Begitu sampai hujan turun dengan derasnya.

Setelah hujan mulai reda kami melanjutkan kembali perjalanan. Eh begitu lewat danau pertama dan kedua tiba-tiba hujan kembali turun dengan derasnya. Memang Bapak pemilik pom bensin tua tempat kami berteduh telah menjelaskan setelah ini tidak ada tempat berteduh lagi selama 20 km. Kami benaran nekat karena berpacu dengan waktu. Hasilnya beneran basah semua.

Pada akhirnya kami sampai ketemu dengan pom bensin besar, langsung kami mengarahkan masuk kedalam untuk berteduh,  rupanya itu adalah pintu masuk ke kota Guamini. Karena belum makan siang, kami putuskan untuk makan dan istirahat terlebih dahulu di sana sambil menunggu hujan reda. Usai makan, hujan juga tidak kunjung reda, kami putuskan untuk menginap 1 malam di kota Guamini. Jadi total perjalanan hari kedua kami menempuh jarak 134 km.

Kami pun akhirnya sibuk cari dari Internet penginapan di Kota Guamini, beruntungnya kami akhirnya mendapatkan hotel di sebelah Pom Bensin, setelah check in kami bongkar semua perlengkapan kami dan gantung di kamar. Pemilik hotelnya baik sekali, kami banyak ngobrol dan dia banyak memberikan informasi mengenai kota Guamini dan apa-apa saja yang dapat kami lakukan disana.

Kami disarankn untuk besok hari mencoba jalan masuk ke kota karena ada danau, nah danau kedua yg terlihat di jalan rupanya sampingnya tuh adalah kota guamini, namanya Lago Del Monte, banyak jenis burung dsana kata mereka ada flamingo tapi kami ngak sempat ketemu. Pas di jalan nampak bebek terbang. Can’t believed it Bebek liar banyak banget diseputaran sana.

Karena danaunya tuh banyak ikan makanya burung-burung pada datang kesana terus yang unik adalah tuh 3 danau semua airnnya asin padahal jauh dari laut, teorinya sih tuh dulu merupakan laut tua . So kami menikmati suasana disana dan sorenya di sambut sunset yang stunning banget pas di depan hotel.

sunset at guamini

sunset at guamini

Besoknya kami bangun pagi-pagi dan mempersiapkan diri, kemudian kami menuju ke kota Guamini, ke danau dan lihat kotanya yang punya bangunan arsitektur Salamone tahun 50-an dan dia bangunan-bangunan futuristik gitu. Terus jalur yang kami lewati juga disebut jalur Salamone kayak sepanjang kota-kota yang kita singgahi rata-rata ada bangunan yang di bangun sama dia.

Ceritanya pas lagi sial nih, keluar dari kota Guamini, tali gas motor saya putus. Jadi kami dorong ke kantor polisi. Pas saya tidak membawa cadangan tali gas, yang terbawa hanya tali klos saja, kami tanya pada polisi dimana ada mekanik yang bisa di panggil untuk memperbaiki motor saya ini. Kata polisinya mekanik terdekat itu di dalam kota Guamini, saat itu kami sudah keluar dari kota Guamini dan untuk masuk kedalam lagi harus menempuh jarak 8 km.

Polisinya membantu menelepon  “remis” atau taxi pribadi. saya  dibawa ke kota untuk menjempuk mekanik yang namanya señor picasso. Kemudian dia bilang kamu harus membawa motor kami ke sini, buka langsam (gas) motor besar, kemudian di gas pelan-pelan dan bawa ke sini.

Kemudian balik ke kantor polisi terus bawa motor saya kesana untuk di perbaiki, eh malah di tengah jalan motor kami di stop pula sama polisi in the middle of nowhere. Tapi saya jelasin smuanya dan di lepas tanpa tanya SIM, lucky banget waktu itu. Setelah di perbaiki saya balik ke hotel untuk menjemput Belen yang sudah ke hotel terlebih dahulu untuk menginformasikan ke pemilik hotel bahwa kami ini late check out karena motor kami sedang bermasalah.

Kami kemudian melanjutkan perjalanan dari Guamini ke Carhue, jarak Guamini ke Carhue hanya 58 km, jadi langsung kami “tembak” langsung kesana. Sampai di Carhue sekitar jam 2 siang karena belum makan siang kami kembali mencoba Asado lagi.  Setelah makan siang kami melanjutkan perjalanan ke Epecuen yang jaraknya hanya 5 km dari Carhue.

Mulai masuk ke jalan utamanya yang disambut dengan pohon tua yang sudah mati tapi masih berdiri tegak seperti terawetkan Bangunan pertama tuh El Matadero, rumah potong hewan karya Salamone juga.

 

All those trees were covered by the flood also during 25 years but still remain standing until today

All those trees were covered by the flood also during 25 years but still remain standing until today

 

 

 

It was a slaughterhouse. This is also one of the architect Fransisco Salamone's art that was covered underwater for 25 years during the flood of Lago Epecuen.

It was a slaughterhouse. This is also one of the architect Fransisco Salamone’s art that was covered underwater for 25 years during the flood of Lago Epecuen.

Terlihat bekas bangunannya semua., ada yang masih beneran utuh dan ada yang sudah runtuh. Bekas hotel, bekas toko roti, feelingnya kuat banget disana, seakan merasakan bencana yang melanda Epecuen saat itu. (Cerita tentang Bencana di Epecuen)

Semakin kami puas berkeliling di areal depan waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 sore, kami sudah mulai diserang oleh serangga yang seperti nyamuk, kami memutuskan balik ke Carhue untuk cari tempat Kemping, begitu dapat temapt kami segera membangun tenda dan langsung beristirahat.

Cek prakiraan cuaca di smartphone e malah 2-3 hari kedepan pada hujan pula, jadinya kami bener-bener bertahan 2 malam di bawah tenda dengan hujan sampai hari ketiga kami sudah tidak tahan lagi dan kami putuskan untuk lanjut walaupun hujan jadilah kami nekad melanjutkan perjalanan dibawah guyuran hujan.

Sekarang dari Carhue kita menuju Sierra de la ventana, ini adalah adalah daerah pegunungan ber-dataran tertinggi di Provincia de Buenos Aires, jaraknya dari Carhue ke Sierra de la ventana tuh 191 km yang kita tempuh di bawah guyuran hujan perjalanan kita pas autumn jadi udara mulai dingin. Selama memasuki pegunungan tuh kami di suguhkan pemandangan yg buaguuuss banget.

Pemandangan di pegunungan

Pemandangan di pegunungan

Sampe disana jam 19.00 lewat dengan kondisi hujan deras sekali. Sampe di Sierra de la ventana (artinya pegunungan dari jendela) kami basah kuyup rencananya mau camping tapi karena cuacanya parah banget jadinya kami booking hotel sebelumnya, pas sampe disana nyari hotelnya di bawah guyuran hujan gak nampak-nampak hotelnya sampai akhrnya ketemu.

Hotelnya gak ada lampu satu pun, semuanya gelap jadi Belen ketuk pintu dan tiba-tiba keluar 1 bapak kami dipersilahkna masuk dan ternyata kami ini adalah tamu satu-satunya disana. Kayak film horor karena hotel ini rmh tua gitu. So kami masuk ke kamar, gantung semua pakaian dan barang-barang yang basah untuk di keringkan. Cek prakiraan cuaca kembali ternyata besok juga bakalan hujan. Jadi kami memutuskan untuk tinggal 2 malam disana.

Next daynya kami explore di sekitaran sana aja, cuaca sangat dingin sekali disana karena pas mendung jg seharian. Daerah tujuan yang akan kami kunjungi termasuk lumayan panjang, dari pegunungan langsung turun ke South Coast.

Dari Sierra de la ventana ke Reta jaraknya sekitar 115km, Kami lewati kota kecil di pegunungan sekitar 11 km dari Sierra de la ventana, kiri kanan semua tampak hijau dan hijau di tengah perjalanan kami melewati kuburan yang terkenal denga patung kepala Yesus besar banget. Perjalanan selanjutnya kami turun dan turun terus ke bawah hingga ke pesisir.

Jalanan yang kami lintasi ini gak ada apa-apanya sepanjang 83 km, kosong dan melompong terdiri dari tanah lapang dan jalan saja, pas mau masuk 90-an km ban belakang kami kempes, nah disinilah muncul masalahnya. Saya coba perbaiki dengan cairan anti ban bocor kemudian kami lanjutkan sekitar 10 km eh bocor lg kali ini lebih apes deh. Kami coba ganti ban dalam dari sekitar jam2 siang ganti ban sampe jam 5.

Gila susah banget, ceritanya akhirnya kami ganti ban dalam trus pompa tapi ban nya gak terisi-terisi juga saya mengira pompany yg gak bagus karena kami bawa pompa mini untuk sepeda panjangnya cuma 10 cm.

Bersambung ke Part 2

 

About Contributor :

johan n belen

Johan Chen, seorang petualang sejati yang hobinya adalah touring. Sejak masi di Medan hobinya adalah pelesiran kemana-mana dengan sepeda motor, saat ini dia merantau jauh meninggalkan Indonesia dan menetap di Buenos Aires, Argentina. Kegemaran di Medan ternyata terbawa juga sampai disana, berdua bersama istri tercinta Belen Larrosa, mereka mengarungi propinsi demi propinsi di Argentina. Johan dan Belen akan berbagi cerita dan pengalaman adventure mereka di Food and Holiday.

Facebook | Instagram

4 Comments

Add yours

+ Leave a Comment